Sabtu, 10 November 2012

Aku dan Bintang


Hari ini tanggal 10 November kan? Semua masih ingat dan tahu kan hari apa? Ya benar, hari ini memanglah hari Pahlawan. Hari ini adalah hari dimana kita menundukkan kepala kita sejenak, mengenang , dan merenungkan perjuangan pahlawan-pahlawan kita yang telah gugur dimasa lalu. Di waktu dimana kita belum mengetahui apa-apa tentang dunia ini. Mereka berani mempertaruhkan nyawanya demi hidup kita, demi masa depan kita di waktu sekarang. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Mempertahankan kemerdekaan! Ya mungkin ini emang bener sih, tapi apa Cuma itu usaha kita? Demi sebuah rasa terima kasih? Cuma itu kah balas budi kita?
Siapa pahlawan favoritmu? Banyak yang akan menjawab Bung Karno,Bung Hatta, Bung Tomo, dll. Ya, mereka sangat diidolakan karena kegigihan mereka. Namun pernahkah kita berpikir tentang sesosok makhluk yang sangat sabar di dunia ini?  Pernahkah kita berpikir untuk menjawab “guru” saat kita ditanya pertanyaan seperti itu. Entah di dalam hati kita, di pikiran kita, atau bahkan di mulut kita, dan  mungkin hanya sediikit dari kita yang yang memikirkannya bahkan terkadang ragu untuk menjawabnya,? Guru, di bahasa Jawa sering dikatakan bahwa guru adalah digugu lan ditiru atau jika kita artikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi dipatuhi dan diteladan. Sosok seorang guru memang pantas untuk mendapatkan sebutan itu.
Kalau kita mau menelisik ke belakang, kita akan ingat sendiri betapa perjuangan guru saat itu. Saat kita masih berada di Taman Kanak-kanak, siapa yang mengajari kita menggunting, menggambar, memegang pensil, menyebutkan nama-nama hari, menyebutkan nama-nama tahun, menyebutkan nama-nama binatang, menyebutkan angka, menyebutkan nama-nama warna, menyebutkan nama-nama buah, dan lain-lain.  Bayangkan saja, seandainya kita ini orang sukses, setiap hari berkutat di depan computer, mempunyai meeting setiap harinya dengan para investor ataupun client. Bagaimana jika kita ditanya nama buah dan kita salah karena kita tidak pernah diajari oleh guru sebelumnya? Hal ini merupakan contoh kecil namun penting sebenarnya.
Atau saat kita beranjak masuk Sekolah Dasar, kita diajari bagaimana menulis dengan rapi dan baik. Kita diajari juga bagaimana caranya menghitung, mengotak-atik angka secara sederhana dan yang paling penting, kita bisa menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Contohnya saja saat kita pergi ke warung untuk membeli jajanan, kita bisa menghittung berapa total uang yangkita perlukan tanpa takut kalau kita ditipu nantinya. Atau saat kita beranjak ke jenjang yang lebih jauh, kita berkutat pada hal-hal yang lebih kompleks dalam kehidupan kita.
Nah, pernahkah kita berpikir sejauh itu? Hal ini mungkin terlihat sepele bagi kita. Namun apa jadinnya hidup kita tanpa adanya mereka-mereka yang rela menghadapi kenakalan dan kelabilan kita. Mereka memang pahlawan-tanpa-tanda-jasa, namun mereka sangat berjasa di kehidupan kita. Guru, sumber pemberi ilmu, fasilitator belajar kita. Banyak yang telah mereka lakukan dan korbankan untuk kita, murid-muridnya. Mungkin , tidak semua guru sempurna di dalam ketidaksempurnaan mereka. Mereka juga manusia biasa yang bisa mengeluh juga seperti kita. Mengeluh karena tidak dihormati, tidak dihargai baik oleh murid-muridnya ataupun instansi-instansi yang berwenang. Oleh karena itu, siapapun kita apapun kita sekarang ini ataupun di masa yang akan jangan pernah kita menyepelekan guru kita. Tanpa mereka, kita tidak akan bisa menulis dengan lancar,  membaca dengan lancar, bertingkah dengan baik, dan menjadi seperti apa yang kita lihat sekarang ini. Mereka itu pahlwan kita, pahlawan bagi para pencari ilmu di dunia ini entah seberapa besar andil yang mereka berikan dalam kehidupan kita. Di hari Pahlawan ini, marilah kita berterimakasih kepada semua Pahlawan yang berjuang demi negara kita termasuk guru-guru kita.  

Jumat, 09 November 2012

Klisenya Atap Sekolah di Negeri(ku) Ini

Pernahkah kita melihat di layar televisi kita, ataupun mendengar dari radio kita tentang sekolah ambruk? Saya yakin, pasti kita semua pernah mendengar berita itu. Bahkan kita sering merasa miris dan berkata dalam hati “Loh kok bisa?”. Fakta yang saya dapat, pada pertengahan tahun 2012 ini, masih ada sekitar 1549 ruang kelas Sekolah Dasar yang rusak berat dan Pemerintah menjanjikan terselesaikannya masalah ini di tahun yang sama. Namun pada kenyataannya? Sampai bulan ini pun, atau mendekati penghujung tahun ini, belum ada tindakan yang nyata dari pemerintah, belum ada titik mulai dari Pemerinah. Sampai peringatan Hari Pendidikan Nasional pun? Hal ini tetap diabaikan. Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya besar bagi kita, khususnya orang-orang awam yang hanya bisa mengelus dada melihat kelamnya infrastruktur pendidikan kita dan kita sering menghubung-hubungkannya dengan pemberitaan yang sudah lalu, seperti tindak korupsi, suap, ataupun tindak pidana lainnya. Ya, hal ini seperti cerita dari negeri dongeng yang tidak ada habisnya.
Pernahkah kita berpikir tentang nasib anak-anak malang itu? Bagaimana mereka belajar? Bagaimana mereka bisa membangun negeri ini jika sekolah pun tidak memungkinkan untuk ditempati? Bagaimana mungkin mereka belajar jika buku-buku mereka saja diterbangkan oleh angin dan mungkin saja dibasahi oleh hujan yang yang tidak bisa dibendung karena ATAP pun tak ada?
Harga selusin genting itu berapa sebenarnya? Berapa harga selusin cat sebenarnya? Berapa pula harga batako atau triplek untuk menyekat ruang-ruang kelas anak-anak malang itu? Apa harus para pemerhati anak-anak atau mungkin orang-orang yang peduli akan pendidikan di negeri ini membuat gerakan “Koin Untuk Atap Sekolah” masih mungkinkah gerakan ini dicanangkan? Secara harafiah, mungkin hal itu bisa saja dilakukan. Apakah salah membantu orang lain itu? Namun, apakah Pemerintah ini tidak malu akan kinerja para pegawainya yang semena-mena mengutil dana bantuan untuk pembangunan gedung? Ya, mungkin saja dananya sudah dicairkan. Namun kapan direalisasikan? Anak-anak ini hanya menjadi korban dari semuanya. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya datang ke sekolah untuk menuntut ilmu, ya menuntut ilmu! Bukan malah disuruh membersihkan puing-puing bangunan yang rubuh, bukan malah disuruh untuk membereskan sisa-sisa banjir kemarin. Mereka masih anak-anak, mereka masih polos.
Terus siapa yang harus disalahkan? Mereka? Tentu saja bukan. Mereka tidak tahu apa-apa mengenai ini. Namun kita semua, ya kita semua. Saya, Anda, Dia, dan mereka! Mereka yang ada di Gedung bertingkat nan megah, mereka yang ada di gubuk-gubuk kolong jembatan, mereka yang setiap hari kepanasan karena macet, mereka yang berada di ruangan ber-AC nan nyaman, mereka yang harus menyeberang sungai atau berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk sampai di sekolah dan mereka-mereka yang lain, yang ada di seluruh Indonesia. Saya dan teman-teman saya sebagai pelajar, dan anda-anda yang peduli akan pendidikan. Ini masalah kita semua, bukan masalahku sendiri ataupun masalah mereka saja. Ini masalah kita, ini kewajiban kita untuk membenahi semuanya, untuk mereparasi semuanya. Kita (bersama-sama) bekerjasama bisa mengadakan perubahan. Sekecil apapun itu, jika semuanya dilakukan dengan hati yang tulus pastilah akan menghasilkan buah yang baik.
Siapa sih yang tidak mau mendengar prestasi-prestasi membanggakan dari anak-anak Indonesia? Semua pasti mau kan? Mereka bisa kawan-kawan. Sudah ada beberapa dari mereka terbukti menjadi juara-juara olimpiade internasional, tetapi masih banyak yang potensinya belum digali atau bahkan belum terdeteksi. Kunci utama kesuksesan sebuah pendidikan yaitu tercapai harmoninya antara semua aspek di dalam pendidikan, bukan kesempurnaan namun harmoni. Dimana semua aspek tersebut bersatu padu dan menjadikan suatu sistem yang elok.
Oleh karena itu kawan-kawanku yang budiman, yang terhormat, yang tersayang. Kepedulian ini bukan hanya milikku, bukan hanya milik orang tua anak-anak kecil itu, namun milik kita semua. Percayalah inisiatif kecil ini akan menghasilkan buah yang besar di kemudian harinya.