Jumat, 09 November 2012

Klisenya Atap Sekolah di Negeri(ku) Ini

Pernahkah kita melihat di layar televisi kita, ataupun mendengar dari radio kita tentang sekolah ambruk? Saya yakin, pasti kita semua pernah mendengar berita itu. Bahkan kita sering merasa miris dan berkata dalam hati “Loh kok bisa?”. Fakta yang saya dapat, pada pertengahan tahun 2012 ini, masih ada sekitar 1549 ruang kelas Sekolah Dasar yang rusak berat dan Pemerintah menjanjikan terselesaikannya masalah ini di tahun yang sama. Namun pada kenyataannya? Sampai bulan ini pun, atau mendekati penghujung tahun ini, belum ada tindakan yang nyata dari pemerintah, belum ada titik mulai dari Pemerinah. Sampai peringatan Hari Pendidikan Nasional pun? Hal ini tetap diabaikan. Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya besar bagi kita, khususnya orang-orang awam yang hanya bisa mengelus dada melihat kelamnya infrastruktur pendidikan kita dan kita sering menghubung-hubungkannya dengan pemberitaan yang sudah lalu, seperti tindak korupsi, suap, ataupun tindak pidana lainnya. Ya, hal ini seperti cerita dari negeri dongeng yang tidak ada habisnya.
Pernahkah kita berpikir tentang nasib anak-anak malang itu? Bagaimana mereka belajar? Bagaimana mereka bisa membangun negeri ini jika sekolah pun tidak memungkinkan untuk ditempati? Bagaimana mungkin mereka belajar jika buku-buku mereka saja diterbangkan oleh angin dan mungkin saja dibasahi oleh hujan yang yang tidak bisa dibendung karena ATAP pun tak ada?
Harga selusin genting itu berapa sebenarnya? Berapa harga selusin cat sebenarnya? Berapa pula harga batako atau triplek untuk menyekat ruang-ruang kelas anak-anak malang itu? Apa harus para pemerhati anak-anak atau mungkin orang-orang yang peduli akan pendidikan di negeri ini membuat gerakan “Koin Untuk Atap Sekolah” masih mungkinkah gerakan ini dicanangkan? Secara harafiah, mungkin hal itu bisa saja dilakukan. Apakah salah membantu orang lain itu? Namun, apakah Pemerintah ini tidak malu akan kinerja para pegawainya yang semena-mena mengutil dana bantuan untuk pembangunan gedung? Ya, mungkin saja dananya sudah dicairkan. Namun kapan direalisasikan? Anak-anak ini hanya menjadi korban dari semuanya. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya datang ke sekolah untuk menuntut ilmu, ya menuntut ilmu! Bukan malah disuruh membersihkan puing-puing bangunan yang rubuh, bukan malah disuruh untuk membereskan sisa-sisa banjir kemarin. Mereka masih anak-anak, mereka masih polos.
Terus siapa yang harus disalahkan? Mereka? Tentu saja bukan. Mereka tidak tahu apa-apa mengenai ini. Namun kita semua, ya kita semua. Saya, Anda, Dia, dan mereka! Mereka yang ada di Gedung bertingkat nan megah, mereka yang ada di gubuk-gubuk kolong jembatan, mereka yang setiap hari kepanasan karena macet, mereka yang berada di ruangan ber-AC nan nyaman, mereka yang harus menyeberang sungai atau berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk sampai di sekolah dan mereka-mereka yang lain, yang ada di seluruh Indonesia. Saya dan teman-teman saya sebagai pelajar, dan anda-anda yang peduli akan pendidikan. Ini masalah kita semua, bukan masalahku sendiri ataupun masalah mereka saja. Ini masalah kita, ini kewajiban kita untuk membenahi semuanya, untuk mereparasi semuanya. Kita (bersama-sama) bekerjasama bisa mengadakan perubahan. Sekecil apapun itu, jika semuanya dilakukan dengan hati yang tulus pastilah akan menghasilkan buah yang baik.
Siapa sih yang tidak mau mendengar prestasi-prestasi membanggakan dari anak-anak Indonesia? Semua pasti mau kan? Mereka bisa kawan-kawan. Sudah ada beberapa dari mereka terbukti menjadi juara-juara olimpiade internasional, tetapi masih banyak yang potensinya belum digali atau bahkan belum terdeteksi. Kunci utama kesuksesan sebuah pendidikan yaitu tercapai harmoninya antara semua aspek di dalam pendidikan, bukan kesempurnaan namun harmoni. Dimana semua aspek tersebut bersatu padu dan menjadikan suatu sistem yang elok.
Oleh karena itu kawan-kawanku yang budiman, yang terhormat, yang tersayang. Kepedulian ini bukan hanya milikku, bukan hanya milik orang tua anak-anak kecil itu, namun milik kita semua. Percayalah inisiatif kecil ini akan menghasilkan buah yang besar di kemudian harinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar