Pernahkah kita melihat di layar televisi kita,
ataupun mendengar dari radio kita tentang sekolah ambruk? Saya yakin, pasti
kita semua pernah mendengar berita itu. Bahkan kita sering merasa miris dan
berkata dalam hati “Loh kok bisa?”. Fakta
yang saya dapat, pada pertengahan tahun 2012 ini, masih ada sekitar 1549 ruang
kelas Sekolah Dasar yang rusak berat dan Pemerintah menjanjikan
terselesaikannya masalah ini di tahun yang sama. Namun pada kenyataannya?
Sampai bulan ini pun, atau mendekati penghujung tahun ini, belum ada tindakan
yang nyata dari pemerintah, belum ada titik mulai dari Pemerinah. Sampai
peringatan Hari Pendidikan Nasional pun? Hal ini tetap diabaikan. Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya
besar bagi kita, khususnya orang-orang awam yang hanya bisa mengelus dada
melihat kelamnya infrastruktur pendidikan kita dan kita sering
menghubung-hubungkannya dengan pemberitaan yang sudah lalu, seperti tindak
korupsi, suap, ataupun tindak pidana lainnya. Ya, hal ini seperti cerita dari
negeri dongeng yang tidak ada habisnya.
Pernahkah kita berpikir tentang nasib anak-anak
malang itu? Bagaimana mereka belajar? Bagaimana mereka bisa membangun negeri
ini jika sekolah pun tidak memungkinkan untuk ditempati? Bagaimana mungkin
mereka belajar jika buku-buku mereka saja diterbangkan oleh angin dan mungkin
saja dibasahi oleh hujan yang yang tidak bisa dibendung karena ATAP pun tak
ada?
Harga selusin genting itu berapa sebenarnya? Berapa
harga selusin cat sebenarnya? Berapa pula harga batako atau triplek untuk
menyekat ruang-ruang kelas anak-anak malang itu? Apa harus para pemerhati
anak-anak atau mungkin orang-orang yang peduli akan pendidikan di negeri ini
membuat gerakan “Koin Untuk Atap Sekolah” masih mungkinkah gerakan ini
dicanangkan? Secara harafiah, mungkin hal itu bisa saja dilakukan. Apakah salah
membantu orang lain itu? Namun, apakah Pemerintah ini tidak malu akan kinerja
para pegawainya yang semena-mena mengutil dana bantuan untuk pembangunan
gedung? Ya, mungkin saja dananya sudah dicairkan. Namun kapan direalisasikan?
Anak-anak ini hanya menjadi korban dari semuanya. Mereka tidak tahu apa-apa.
Mereka hanya datang ke sekolah untuk menuntut ilmu, ya menuntut ilmu! Bukan
malah disuruh membersihkan puing-puing bangunan yang rubuh, bukan malah disuruh
untuk membereskan sisa-sisa banjir kemarin. Mereka masih anak-anak, mereka
masih polos.
Terus siapa yang harus disalahkan? Mereka? Tentu
saja bukan. Mereka tidak tahu apa-apa mengenai ini. Namun kita semua, ya kita
semua. Saya, Anda, Dia, dan mereka! Mereka yang ada di Gedung bertingkat nan
megah, mereka yang ada di gubuk-gubuk kolong jembatan, mereka yang setiap hari
kepanasan karena macet, mereka yang berada di ruangan ber-AC nan nyaman, mereka
yang harus menyeberang sungai atau berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk
sampai di sekolah dan mereka-mereka yang lain, yang ada di seluruh Indonesia.
Saya dan teman-teman saya sebagai pelajar, dan anda-anda yang peduli akan
pendidikan. Ini masalah kita semua, bukan masalahku sendiri ataupun masalah
mereka saja. Ini masalah kita, ini kewajiban kita untuk membenahi semuanya,
untuk mereparasi semuanya. Kita (bersama-sama) bekerjasama bisa mengadakan
perubahan. Sekecil apapun itu, jika semuanya dilakukan dengan hati yang tulus
pastilah akan menghasilkan buah yang baik.
Siapa sih yang tidak mau mendengar prestasi-prestasi
membanggakan dari anak-anak Indonesia? Semua pasti mau kan? Mereka bisa
kawan-kawan. Sudah ada beberapa dari mereka terbukti menjadi juara-juara
olimpiade internasional, tetapi masih banyak yang potensinya belum digali atau
bahkan belum terdeteksi. Kunci utama kesuksesan sebuah pendidikan yaitu
tercapai harmoninya antara semua aspek di dalam pendidikan, bukan kesempurnaan
namun harmoni. Dimana semua aspek tersebut bersatu padu dan menjadikan suatu
sistem yang elok.
Oleh karena itu kawan-kawanku yang budiman, yang
terhormat, yang tersayang. Kepedulian ini bukan hanya milikku, bukan hanya
milik orang tua anak-anak kecil itu, namun milik kita semua. Percayalah
inisiatif kecil ini akan menghasilkan buah yang besar di kemudian harinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar