Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Oktober 2013

Hidup Bernegara Membangun Bangsa



Hari ini, Kamis 10 Oktober 2013 pada jam 12.30 aku dan teman-teman XII SCIENCE AAD belajar mengenai Bentuk Negara, Bentuk Pemerintahan, dan Sistem Pemerintahan. Berdasarkan diskusi awal kami dengan Miss Aul, di terdapat dua baris terisi pada setiap kolom yang dibuat. Untuk bentuk negara terdapat bentuk Kesatuan dan Federasi, sedangkan di dalam Bentuk Pemerintahan terdapat Republik dan Monarki (absolut, konstitusional, dan parlemen). Di dalam Sistem Pemerintahan terisi Presidensial dan Parlementer. 

Saat kami dibagi menjadi enam kelompok, aku mendapat bagian diskusi kelompok Sistem Pemerintahan Presidensial. Kebetulan, kelompok kami belum mendapat giliran presentasi, jadi Kamis minggu depan aku akan melakukan presentasi mengenai Sistem Pemerintahan Presidensial. 

Dua kelompok yang sudah melakukan presentasi adalah bentuk Negara Kesatuan dan Federasi. Berdasarkan hasil diskusi bersama mereka, dapat diketahui ciri-ciri, kelebihan, dan kekurangan bentuk Negara tersebut. Untuk Indonesia sendiri, sebenarnya kita sudah dapat menebak apa bentuk Negara kita ini. Ya benar sekali, Negara kesatuan. NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Terbagi kedalam dua bentuk, yaitu sentralisasi dan desentralisasi. Jika kita meninjau lebih dalam tentang Indonesia, kita dapat ketahui bahwa Indonesia sepertinya menganut sistem semi-sentralisasi-desentralisasi. Kenapa? Otonomi daerah diberlakukan, kekuasaan pemerintah pusat masih diakui, sedikit bagian dalam ciri-ciri ini membuat kita sedikit “terbuka” mengenai apa yang menjadi bentuk Negara Indonesia ini sebenarnya.

Sebenarnya, masih banyak yang ingin aku ketahui tentang bentuk Negara. Sebagai permulaan hal ini sudah bagus tentunya. Lebih banyak contoh yang diberikan akan lebih membuka wawasan kita akan Negara kita sendiri. Untuk bab ini, motto yang tepat yaitu Kenali Negara kita dan jadi bangsa yang besar.

Jumat, 20 September 2013

Diskusi dan Ekshibisi tentang Ideologi di Indonesia



Senin, 16 September 2013
 
Pada Senin ini, kelas saya kembali mendapat jadwal Pendidikan Kewarganegaraan. Sungguh hari itu berbeda karena kami anggota kelas sudah menyiapkan bahan untuk dibahas dalam diskusi melalui booth pameran kami. Apa yang dipamerkan? Tentunya segala hal yang berkaitan dengan bab yang kami pelajari. Kebetulan kelompok saya mendapat bagian tentang “Sikap Positif terhadap Sila-sila di Pancasila”.

Pada ronde pertama saya dan dua teman saya yang lain mendapat giliran untuk mempresentasikan hasil diskusi kami. Melalui lambang-lambang setiap sila dan satu gambar representasi dari setiap sila kami menjelaskan apa saja sikap positif dan contoh yang dapat diberikan di kehidupan sehari-hari. Teman-teman yang mendatangi booth kami banyak yang mengajukan pertanyaan dan terlihat antusias dengan presentasi kami. Setelah ronde pertama selesai, kami bertiga bertukar tugas dengan anggota lain yang sebelumnya bertugas  untuk mengunjungi booth lain.

Di kelompok lain, kami mendapat hal-hal baru dan menarik serta berbeda dari kelompok kami. Ada kelompok ynag membahas tentang nilai-nilai Pancasila, sejarah Pancasila, Pembangunan Nasional dan lain-lain. Melalui  kegiatan ini, kami dapat bertukar pikiran dengan teman-teman yang lain. Satu hal yang paling saya kenang adalah Pancasila sudah ada sebelum masa perjuangan. Dimana saat itu memang bukan Pancasila namanya, namun lebih ditekankan pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah mendarah daging di masyarakat Indonesia.

Setelah kami selesai dengan tugas kami masing-masing, kami mengerjakan soal kuis yang berjumlah lima soal. Salah satu hal yang paling menarik yaitu pertanyaan yang menyebutkan “jika kamu bisa membangun sebuah Negara, ideologi mana yang akan kamu pilih untuk menjadi ideologi di Negara kamu?” Sebuah pertanyaan oratoris yang jawabannya tergantung dengan si penjawab.

Pada dasarnya kegiatan hari Senin itu cukup menyenangkan, namun sebenarnya saya ingin tahu lebih banyak mengenai jenis-jenis ideologi secara mendetil sehingga saya tidak menilai sebuah ideologi itu hanya dari sebuah tulisan. Selain itu mengetahui lebih dalam mengenai ideologi lain juga membantu saya untuk bertindak secara objektif dan menilai sesuatu dari banyak sudut pandang.

Minggu, 08 September 2013

Refleksi Diskusi Tentang Pancasila

“Is Pancasila suitable for Indonesian people to face global invasion?”

Senin, 2 September 2013. Kembali aku dan teman-teman sekelompokku berdiskusi tentang Pancasila, yaitu ideologi yang dipakai oleh Indonesia. Dengan pertanyaan yang dituliskan guruku di papan tulis, aku dan teman-teman mulai berdiskusi tentang kesesuaian Pancasila terhadap perkembangan zaman. Dari diskusi yang kami lalui, kami setuju bahwa Pancasila cocok bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi perkembangan zaman. Menurut kelompok kami, kami menganggap bahwa Pancasila cocok karena Pancasila adalah salah satu ideologi terbuka dan hanya dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila merupakan cerminan dan identitas masyarakat Indonesia. Pancasila juga merupakan ideologi yang fleksibel dan dinamis. Namun semua itu tergantung dari masyarakat sendiri karena masyarakat adalah penentu dari berdirinya Pancasila tersebut. Jadi menurut kami Pancasila cocok jika masyarakat juga menyesuaikan dan menjunjung tinggi nilai Pancasila tersebut.

Tentu saja aku mempunyai buah pikiran tersendiri, terlepas dari hasil diskusi dengan teman-temanku. Ada beberapa hal yang mungkin sedikit kontras dengan hasil diskusi kami karena memang kami melakukannya dengan memadukan beberapa kepala. Seperti kita tahu bahwa Pancasila bersifat universal. Dalam hal ini, kita bisa lihat bahwa pancasila diterapkan di Indonesia dengan kapasitas masyarakatnya yang majemuk atau berbeda-beda. Menurutku bisa saja Pancasila bertahan dengan perkembangan zaman, karena memang kedinamisan yang dimiliki tidak seperti ideologi lain. Selain itu Pancasila juga mempunyai andil dalam perkembangan Indonesia. Tanpa pemahaman yang baik dari masyarakat Indonesia, tanpa diterapkannya nilai-nilai Pancasila dengan baik di kehidupan sehari-hari Negara kita tidak akan mungkin bisa berkembang dalam berbagai bidang. Karena memang Pancasila merupakan landasan kokoh bagi Indonesia. Coba kita pikirkan, berapa tahun Pancasila sudah berdiri? Berapa kali badai yang mengancam Indonesia? Berapa kali isu-isu global melanda Indonesia? Masihkah Pancasila berdiri dengan kokoh? Jawabannya ya!

Pertanyaan diatas cukup kita renungkan dalam hati, tidak usah kita berdebat akan kecocokan Pancasila bagi masyarakat Indonesia. Dalam kenyataan memang Pancasila sangat kuat dan nilai-nilainya tetap sama, meskipun masyarakat harus pandai-pandai beradaptasi dengan perkembangan zaman. Global invasi juga bukan merupakan hal besar bagi Pancasila, karena memang Pancasila lebih kuat pondasinya dibanding dengan ideologi lain. Persatuan seluruh rakyat Indonesia melebur jadi satu dalam Pancasila. Semangat yang membara membuat Pancasila tetap kokoh berdiri. Pancasila itu cocok, cocok bagi masyarakat Indonesia. Meskipun dalam menghadapi invasi global, Pancasila tetap diperlukan oleh masyarakat Indonesia.  Cita-cita yang terkandung di dalam Pancasila merupakan cita-cita seluruh masyarakat Indonesia. Namun semua itu tetap tergantung dari masyarakat Indonesia sendiri. Dapatkah masyarakat Indonesia mempertahankan Pancasila dalam perkembangan zaman? Dapatkah kita menjawabnya? Mari kita buktikan bersama-sama.