Jumat, 20 September 2013

Diskusi dan Ekshibisi tentang Ideologi di Indonesia



Senin, 16 September 2013
 
Pada Senin ini, kelas saya kembali mendapat jadwal Pendidikan Kewarganegaraan. Sungguh hari itu berbeda karena kami anggota kelas sudah menyiapkan bahan untuk dibahas dalam diskusi melalui booth pameran kami. Apa yang dipamerkan? Tentunya segala hal yang berkaitan dengan bab yang kami pelajari. Kebetulan kelompok saya mendapat bagian tentang “Sikap Positif terhadap Sila-sila di Pancasila”.

Pada ronde pertama saya dan dua teman saya yang lain mendapat giliran untuk mempresentasikan hasil diskusi kami. Melalui lambang-lambang setiap sila dan satu gambar representasi dari setiap sila kami menjelaskan apa saja sikap positif dan contoh yang dapat diberikan di kehidupan sehari-hari. Teman-teman yang mendatangi booth kami banyak yang mengajukan pertanyaan dan terlihat antusias dengan presentasi kami. Setelah ronde pertama selesai, kami bertiga bertukar tugas dengan anggota lain yang sebelumnya bertugas  untuk mengunjungi booth lain.

Di kelompok lain, kami mendapat hal-hal baru dan menarik serta berbeda dari kelompok kami. Ada kelompok ynag membahas tentang nilai-nilai Pancasila, sejarah Pancasila, Pembangunan Nasional dan lain-lain. Melalui  kegiatan ini, kami dapat bertukar pikiran dengan teman-teman yang lain. Satu hal yang paling saya kenang adalah Pancasila sudah ada sebelum masa perjuangan. Dimana saat itu memang bukan Pancasila namanya, namun lebih ditekankan pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah mendarah daging di masyarakat Indonesia.

Setelah kami selesai dengan tugas kami masing-masing, kami mengerjakan soal kuis yang berjumlah lima soal. Salah satu hal yang paling menarik yaitu pertanyaan yang menyebutkan “jika kamu bisa membangun sebuah Negara, ideologi mana yang akan kamu pilih untuk menjadi ideologi di Negara kamu?” Sebuah pertanyaan oratoris yang jawabannya tergantung dengan si penjawab.

Pada dasarnya kegiatan hari Senin itu cukup menyenangkan, namun sebenarnya saya ingin tahu lebih banyak mengenai jenis-jenis ideologi secara mendetil sehingga saya tidak menilai sebuah ideologi itu hanya dari sebuah tulisan. Selain itu mengetahui lebih dalam mengenai ideologi lain juga membantu saya untuk bertindak secara objektif dan menilai sesuatu dari banyak sudut pandang.

Minggu, 08 September 2013

Refleksi Diskusi Tentang Pancasila

“Is Pancasila suitable for Indonesian people to face global invasion?”

Senin, 2 September 2013. Kembali aku dan teman-teman sekelompokku berdiskusi tentang Pancasila, yaitu ideologi yang dipakai oleh Indonesia. Dengan pertanyaan yang dituliskan guruku di papan tulis, aku dan teman-teman mulai berdiskusi tentang kesesuaian Pancasila terhadap perkembangan zaman. Dari diskusi yang kami lalui, kami setuju bahwa Pancasila cocok bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi perkembangan zaman. Menurut kelompok kami, kami menganggap bahwa Pancasila cocok karena Pancasila adalah salah satu ideologi terbuka dan hanya dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila merupakan cerminan dan identitas masyarakat Indonesia. Pancasila juga merupakan ideologi yang fleksibel dan dinamis. Namun semua itu tergantung dari masyarakat sendiri karena masyarakat adalah penentu dari berdirinya Pancasila tersebut. Jadi menurut kami Pancasila cocok jika masyarakat juga menyesuaikan dan menjunjung tinggi nilai Pancasila tersebut.

Tentu saja aku mempunyai buah pikiran tersendiri, terlepas dari hasil diskusi dengan teman-temanku. Ada beberapa hal yang mungkin sedikit kontras dengan hasil diskusi kami karena memang kami melakukannya dengan memadukan beberapa kepala. Seperti kita tahu bahwa Pancasila bersifat universal. Dalam hal ini, kita bisa lihat bahwa pancasila diterapkan di Indonesia dengan kapasitas masyarakatnya yang majemuk atau berbeda-beda. Menurutku bisa saja Pancasila bertahan dengan perkembangan zaman, karena memang kedinamisan yang dimiliki tidak seperti ideologi lain. Selain itu Pancasila juga mempunyai andil dalam perkembangan Indonesia. Tanpa pemahaman yang baik dari masyarakat Indonesia, tanpa diterapkannya nilai-nilai Pancasila dengan baik di kehidupan sehari-hari Negara kita tidak akan mungkin bisa berkembang dalam berbagai bidang. Karena memang Pancasila merupakan landasan kokoh bagi Indonesia. Coba kita pikirkan, berapa tahun Pancasila sudah berdiri? Berapa kali badai yang mengancam Indonesia? Berapa kali isu-isu global melanda Indonesia? Masihkah Pancasila berdiri dengan kokoh? Jawabannya ya!

Pertanyaan diatas cukup kita renungkan dalam hati, tidak usah kita berdebat akan kecocokan Pancasila bagi masyarakat Indonesia. Dalam kenyataan memang Pancasila sangat kuat dan nilai-nilainya tetap sama, meskipun masyarakat harus pandai-pandai beradaptasi dengan perkembangan zaman. Global invasi juga bukan merupakan hal besar bagi Pancasila, karena memang Pancasila lebih kuat pondasinya dibanding dengan ideologi lain. Persatuan seluruh rakyat Indonesia melebur jadi satu dalam Pancasila. Semangat yang membara membuat Pancasila tetap kokoh berdiri. Pancasila itu cocok, cocok bagi masyarakat Indonesia. Meskipun dalam menghadapi invasi global, Pancasila tetap diperlukan oleh masyarakat Indonesia.  Cita-cita yang terkandung di dalam Pancasila merupakan cita-cita seluruh masyarakat Indonesia. Namun semua itu tetap tergantung dari masyarakat Indonesia sendiri. Dapatkah masyarakat Indonesia mempertahankan Pancasila dalam perkembangan zaman? Dapatkah kita menjawabnya? Mari kita buktikan bersama-sama.

Selasa, 12 Maret 2013

Stay Further From HIV/AIDS; Keep in Touch with the Sufferer



Have you ever heard about HIV/AIDS? I guess yes. AIDS is one of the infectious diseases, which is diseases that can be passed between one person and another (communicable), they are caused by pathogens. Before that, we need to know what pathogen is. According to Cambridge Advance Learner’s Dictionary, pathogen is any small organism, such as a virus or a bacterium which can cause disease.
AIDS stands for Acquired Immunodeficiency Syndrome. Based on what have been written in www.m.kidshealth.org, AIDS is a disease that makes human’s body difficult to fight off infectious disease. It is caused by HIV, Human Immunodeficiency Virus, which is a retrovirus that contains RNA.Moreover, the meaning of retrovirus is a type of virus that includes some cancer viruses and HIV (Cambridge Advance Learner’s Dictionary).
HIV can be found in the blood, semen, vaginal fluid, and breast milk of infected people. So, can you guess how this virus is entering our body? The processes are actually simple if we notice to the role of immunity in our body. The virus enters T-Lymphocytes which are located in the thymus (glands that lies in the chest beneath the sternum), it is different with B –Lymphocytes which are spreading out in our body, even though they are actually the same as they act as antibody. After it entered to the T-Lymphocyte, it takes them over and multiplies. It makes the T-Lymphocyte destroyed. When the number of T-Lymphocyte falls to a very low level, people who have been suffering from HIV become more susceptible to other infections that come from any germs or bacteria.
We have to be aware and worried if there is something wrong in our body such a symptom of this disease. So, what are the symptoms? The symptoms are usually common diseases which have been attacking your body for a long time. The diseases that could be the symptoms of AIDS are diarrhea, fatigue or weakness, fever, headache, joint pain, night sweats,  rash, swollen glands, weight loss, years infections of the mouth or vagina. These symptoms seem normal; however, we need to take more care to these as we do not know the real disease (www.bodyandhealth.canada.com). In order to take it safe, contact your doctor immediately.
Now, we really need to comprehend how the virus is transmitted? There are some activities that allow HIV transmission such as unprotected sexual contact with the sufferer, direct blood contact (including injection drug needles, blood transfusions, accidents in health care settings or certain blood products/menstrual blood), contact of mother to baby (before or during birth, or through breast milk) (www.aids.org).
Nowadays, AIDS has spread throughout worldwide. Logically, we will think how is the global distribution of this virus? According to www.news.bbc.co.uk, almost 39 millions of all of the world population are suffering AIDS and two-third of them is living in Sub-Saharan Africa. Another fact is 2.8 million of 39 million sufferers killed in 2005.
Based on the epidemiologic studies research there are three broad yet distinct geographic patterns of transmission.
Pattern I is typical of industrialized countries with large numbers of reported AIDS cases, such as North America, Western Europe, Australia, New Zealand, and parts of Latin America. In these areas, most cases occur among homosexual or bisexual males and urban (Intravenous) IV drug users. Heterosexual transmission is responsible for only a small percentage of cases but is increasing.
Pattern II is observed in areas of central, eastern, and southern Africa and in some Caribbean countries. In these areas, most cases occur among heterosexuals; the male to female ratio is approximately 1:1 and prenatal transmission is relatively more common than in other areas. IV drug use and homosexual transmission either do not occur or occur at a very low level.

Pattern III is found in areas of Eastern Europe, the Middle East, Asia, and most of the Pacific. HIV appears to have been introduced into these areas in the early to mid-1980s, and only small numbers of cases have been reported. Homosexual and heterosexual transmission has only recently been documented. Generally, cases have occurred among persons who have traveled to endemic areas or who have had sexual contact with individuals from endemic areas, such as homosexual men and female prostitutes.
The reasons above can make this disease categorized as worldwide importance, because it will pose public health problems for now and for the foreseeable future. By knowing this reason,we cannot reject that the roles of social-economic-biological factors in the prevention and control are very important in preventing the spreading of this disease. We can see the social roles in our daily life like a good circumcision, here means where the circumstance makes stigma and discrimination associated with AIDS it can delay the treatment and care for AIDS-positive people, and prevents people coming forward for testing. People can be so afraid of being stigmatized that they are unwilling to admit they have this disease; therefore, they cannot take the steps necessary to overcome it.
As a reaction of the information written above, we can conclude that public awareness must be increased in order to reduce the stigma to the sufferer. So all people can understand the facts and they will not make a judgment to them.Anyway, condom promotion is also having an important role in AIDS prevention and control because it can prevent the disease spread out during sexual contact. The way to prevent the spreading of this virus does not stop here, another way to reduce the number of AIDS sufferer is early identification and treatment by expanding and strengthening voluntary counseling and testing centers and also reduction in poverty development of primary prevention interventions such in India and drug de-addiction programs.
Beside social-economic roles, there is also biological role of AIDS prevention and control such as blood transfusion safety, vaccine and microbicides injection.
As we know that there is a possibility of finding obstacles in fighting that disease. The lack of prevention, care coverage, and rigorous evaluations are the examples of the obstacles in the eradication of HIV/AIDS.
AIDS Ribbon
As juvenile, it is a must for us to know this disease well as we are global people. By knowing this disease earlier, we can prevent that disease comes, either in our body itself or others’ body. For addition and obligation, we should have a role in increasing the public awareness about HIV/AIDS. To sum up, the most important thing is we can save our world from HIV/AIDS by reduction of sufferer in each second. Stay further from HIV/AIDS; keep in touch with the sufferer!

*This article is created by Riska Larasati and Tri Nency in order to fulfill Biology's assignment. Comments and Likes are very helpful. Any suggestions and comments are permitted :D Thank You 

Sabtu, 10 November 2012

Aku dan Bintang


Hari ini tanggal 10 November kan? Semua masih ingat dan tahu kan hari apa? Ya benar, hari ini memanglah hari Pahlawan. Hari ini adalah hari dimana kita menundukkan kepala kita sejenak, mengenang , dan merenungkan perjuangan pahlawan-pahlawan kita yang telah gugur dimasa lalu. Di waktu dimana kita belum mengetahui apa-apa tentang dunia ini. Mereka berani mempertaruhkan nyawanya demi hidup kita, demi masa depan kita di waktu sekarang. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Mempertahankan kemerdekaan! Ya mungkin ini emang bener sih, tapi apa Cuma itu usaha kita? Demi sebuah rasa terima kasih? Cuma itu kah balas budi kita?
Siapa pahlawan favoritmu? Banyak yang akan menjawab Bung Karno,Bung Hatta, Bung Tomo, dll. Ya, mereka sangat diidolakan karena kegigihan mereka. Namun pernahkah kita berpikir tentang sesosok makhluk yang sangat sabar di dunia ini?  Pernahkah kita berpikir untuk menjawab “guru” saat kita ditanya pertanyaan seperti itu. Entah di dalam hati kita, di pikiran kita, atau bahkan di mulut kita, dan  mungkin hanya sediikit dari kita yang yang memikirkannya bahkan terkadang ragu untuk menjawabnya,? Guru, di bahasa Jawa sering dikatakan bahwa guru adalah digugu lan ditiru atau jika kita artikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi dipatuhi dan diteladan. Sosok seorang guru memang pantas untuk mendapatkan sebutan itu.
Kalau kita mau menelisik ke belakang, kita akan ingat sendiri betapa perjuangan guru saat itu. Saat kita masih berada di Taman Kanak-kanak, siapa yang mengajari kita menggunting, menggambar, memegang pensil, menyebutkan nama-nama hari, menyebutkan nama-nama tahun, menyebutkan nama-nama binatang, menyebutkan angka, menyebutkan nama-nama warna, menyebutkan nama-nama buah, dan lain-lain.  Bayangkan saja, seandainya kita ini orang sukses, setiap hari berkutat di depan computer, mempunyai meeting setiap harinya dengan para investor ataupun client. Bagaimana jika kita ditanya nama buah dan kita salah karena kita tidak pernah diajari oleh guru sebelumnya? Hal ini merupakan contoh kecil namun penting sebenarnya.
Atau saat kita beranjak masuk Sekolah Dasar, kita diajari bagaimana menulis dengan rapi dan baik. Kita diajari juga bagaimana caranya menghitung, mengotak-atik angka secara sederhana dan yang paling penting, kita bisa menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Contohnya saja saat kita pergi ke warung untuk membeli jajanan, kita bisa menghittung berapa total uang yangkita perlukan tanpa takut kalau kita ditipu nantinya. Atau saat kita beranjak ke jenjang yang lebih jauh, kita berkutat pada hal-hal yang lebih kompleks dalam kehidupan kita.
Nah, pernahkah kita berpikir sejauh itu? Hal ini mungkin terlihat sepele bagi kita. Namun apa jadinnya hidup kita tanpa adanya mereka-mereka yang rela menghadapi kenakalan dan kelabilan kita. Mereka memang pahlawan-tanpa-tanda-jasa, namun mereka sangat berjasa di kehidupan kita. Guru, sumber pemberi ilmu, fasilitator belajar kita. Banyak yang telah mereka lakukan dan korbankan untuk kita, murid-muridnya. Mungkin , tidak semua guru sempurna di dalam ketidaksempurnaan mereka. Mereka juga manusia biasa yang bisa mengeluh juga seperti kita. Mengeluh karena tidak dihormati, tidak dihargai baik oleh murid-muridnya ataupun instansi-instansi yang berwenang. Oleh karena itu, siapapun kita apapun kita sekarang ini ataupun di masa yang akan jangan pernah kita menyepelekan guru kita. Tanpa mereka, kita tidak akan bisa menulis dengan lancar,  membaca dengan lancar, bertingkah dengan baik, dan menjadi seperti apa yang kita lihat sekarang ini. Mereka itu pahlwan kita, pahlawan bagi para pencari ilmu di dunia ini entah seberapa besar andil yang mereka berikan dalam kehidupan kita. Di hari Pahlawan ini, marilah kita berterimakasih kepada semua Pahlawan yang berjuang demi negara kita termasuk guru-guru kita.  

Jumat, 09 November 2012

Klisenya Atap Sekolah di Negeri(ku) Ini

Pernahkah kita melihat di layar televisi kita, ataupun mendengar dari radio kita tentang sekolah ambruk? Saya yakin, pasti kita semua pernah mendengar berita itu. Bahkan kita sering merasa miris dan berkata dalam hati “Loh kok bisa?”. Fakta yang saya dapat, pada pertengahan tahun 2012 ini, masih ada sekitar 1549 ruang kelas Sekolah Dasar yang rusak berat dan Pemerintah menjanjikan terselesaikannya masalah ini di tahun yang sama. Namun pada kenyataannya? Sampai bulan ini pun, atau mendekati penghujung tahun ini, belum ada tindakan yang nyata dari pemerintah, belum ada titik mulai dari Pemerinah. Sampai peringatan Hari Pendidikan Nasional pun? Hal ini tetap diabaikan. Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya besar bagi kita, khususnya orang-orang awam yang hanya bisa mengelus dada melihat kelamnya infrastruktur pendidikan kita dan kita sering menghubung-hubungkannya dengan pemberitaan yang sudah lalu, seperti tindak korupsi, suap, ataupun tindak pidana lainnya. Ya, hal ini seperti cerita dari negeri dongeng yang tidak ada habisnya.
Pernahkah kita berpikir tentang nasib anak-anak malang itu? Bagaimana mereka belajar? Bagaimana mereka bisa membangun negeri ini jika sekolah pun tidak memungkinkan untuk ditempati? Bagaimana mungkin mereka belajar jika buku-buku mereka saja diterbangkan oleh angin dan mungkin saja dibasahi oleh hujan yang yang tidak bisa dibendung karena ATAP pun tak ada?
Harga selusin genting itu berapa sebenarnya? Berapa harga selusin cat sebenarnya? Berapa pula harga batako atau triplek untuk menyekat ruang-ruang kelas anak-anak malang itu? Apa harus para pemerhati anak-anak atau mungkin orang-orang yang peduli akan pendidikan di negeri ini membuat gerakan “Koin Untuk Atap Sekolah” masih mungkinkah gerakan ini dicanangkan? Secara harafiah, mungkin hal itu bisa saja dilakukan. Apakah salah membantu orang lain itu? Namun, apakah Pemerintah ini tidak malu akan kinerja para pegawainya yang semena-mena mengutil dana bantuan untuk pembangunan gedung? Ya, mungkin saja dananya sudah dicairkan. Namun kapan direalisasikan? Anak-anak ini hanya menjadi korban dari semuanya. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya datang ke sekolah untuk menuntut ilmu, ya menuntut ilmu! Bukan malah disuruh membersihkan puing-puing bangunan yang rubuh, bukan malah disuruh untuk membereskan sisa-sisa banjir kemarin. Mereka masih anak-anak, mereka masih polos.
Terus siapa yang harus disalahkan? Mereka? Tentu saja bukan. Mereka tidak tahu apa-apa mengenai ini. Namun kita semua, ya kita semua. Saya, Anda, Dia, dan mereka! Mereka yang ada di Gedung bertingkat nan megah, mereka yang ada di gubuk-gubuk kolong jembatan, mereka yang setiap hari kepanasan karena macet, mereka yang berada di ruangan ber-AC nan nyaman, mereka yang harus menyeberang sungai atau berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk sampai di sekolah dan mereka-mereka yang lain, yang ada di seluruh Indonesia. Saya dan teman-teman saya sebagai pelajar, dan anda-anda yang peduli akan pendidikan. Ini masalah kita semua, bukan masalahku sendiri ataupun masalah mereka saja. Ini masalah kita, ini kewajiban kita untuk membenahi semuanya, untuk mereparasi semuanya. Kita (bersama-sama) bekerjasama bisa mengadakan perubahan. Sekecil apapun itu, jika semuanya dilakukan dengan hati yang tulus pastilah akan menghasilkan buah yang baik.
Siapa sih yang tidak mau mendengar prestasi-prestasi membanggakan dari anak-anak Indonesia? Semua pasti mau kan? Mereka bisa kawan-kawan. Sudah ada beberapa dari mereka terbukti menjadi juara-juara olimpiade internasional, tetapi masih banyak yang potensinya belum digali atau bahkan belum terdeteksi. Kunci utama kesuksesan sebuah pendidikan yaitu tercapai harmoninya antara semua aspek di dalam pendidikan, bukan kesempurnaan namun harmoni. Dimana semua aspek tersebut bersatu padu dan menjadikan suatu sistem yang elok.
Oleh karena itu kawan-kawanku yang budiman, yang terhormat, yang tersayang. Kepedulian ini bukan hanya milikku, bukan hanya milik orang tua anak-anak kecil itu, namun milik kita semua. Percayalah inisiatif kecil ini akan menghasilkan buah yang besar di kemudian harinya.